MUSLIM YANG MENINGGALKAN SHALAT

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :

Ust. Nur Kholis Majid, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur

Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com

———————————

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr.wb. Ustadz Nur Kholis Majid, saya ingin bertanya status seorang muslim yang meninggalkan shalat. Dalam kehidupan masyarakat, saya sering menjumpai orang yang mengaku Islam dan bahkan berikrar dengan membaca dua kalimat syahadat, tetapi tidak melaksanakan shalat fardhu. Dan secara sosial, dia berprilaku baik sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Bagaimana pandangan Ustadz tentang status orang tersebut? Bisakah dia dihukumi kafir? Atas jawabannya saya sampaikan terima kasih.

M. Roby

Wonokromo-Surabaya

Jawaban:

            Mas M. Roby yang dimulyakan oleh Allah SWT, sebelum saya menjawab pertanyaan anda, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan himbauan agar jangan tergesa-gesa dalam mengkalaim atau menjustifikasi seseorang, terlebih berkenaan dengan masalah kekufuran dan tidak memiliki cukup bukti untuk menguatkannya. Tuduhan yang tidak dapat dibukttikan maka akan menjadi fitnah.

Mas M. Roby, menurut hemat Penulis, ada dua hal yang ingin Penulis jawab dari pertanyaan anda, yaitu berkenaan dengan tolak ukur untuk memberikan label “muslim” kepada seseorang, dan hukuman bagi muslim yang meninggalkan shalat fardhu. Pertama, Mayoritas Ulama’ sepakat bahwa yang menjadi tolak ukur untuk dikatakan sebagai seorang muslim ialah mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan, dan Nabi Muhammad adalah utusanNya. Salah satu ungkapan yang lazim digunakan untuk mengakui dan bersaksi bahwa  Allah SWT adalah Tuhan, dan Nabi Muhammad adalah utusanNya, yaitu sebagaimana berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Dua kalimat syahadat seperti diatas merupakan hal yang wajib untuk dibaca dengan penuh keyakinan dan mejadi tolak ukur untuk memberikan lebel “muslim” kepada seseorang. Adapun teks syar’i yang melegitimasi akan adanya syahadat sebagai tolak ukur dan menjelaskan konsekuensi dari syahadat tersebut ialah sebagaimana yang tersirat dalam ungkapan Nabi SAW berikut:

عَنْ أَبِى مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ    [1]

 Artinya: “Dari Abi Malik, dari ayahnya beliau berkata: aku mendengar Rasul SAW bersabda: “barang siapa yang membaca (bersaksi) bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan mengingkari tuhan selain Allah, maka harta dan darahnya haram (tidak boleh dirampas dan dibunuh). Dan yang menghisab amalnya adalah Allah SWT”.

Berdasarkan Hadis Nabi SAW diatas, dapat disimpukan bahwa orang yang berikrar dengan membaca dua kalimat syahadat dengan penuh keyakinan, dia tetap berstatus sebagai seorang muslim, sekalipun dia meninggalkan shalat dan amaliah lain yang bersifat wajib.

Kedua, yang berkenaan dengan status dan konsekuensi bagi seorang muslim yang meninggalkan shalat fardhu. Dalam hal ini, fukaha mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Orang yang meninggalkan shalat karena meyakini bahwa shalat tersebut tidak wajib bagi setiap muslim, maka fukaha sepakat bahwa dia berstatus kafir dan murtad.
  2. Orang yang meninggalkan shalat karena sifat malas (bukan karena tidak meyakini), maka fukaha berbeda pendapat. Perbedaan pandangan yang terjadi diantara fukaha tentang status orang yang meninggalkan shalat karena sifat malas, adalah sebagaimana berikut:
  1. Hanafiyah: dia berstatus fasik, wajib ditahan dan dipukul hingga berdarah. Sanksi tersebut boleh dilakukan kepadanya sampai yang bersangkutan mau melakukan shalat. Adapun dalil yang dijadikannya sebagai acuan ialah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِى وَالْمَارِقُ مِنَ الدِّينِ التَّارِكُ الْجَمَاعَةَ  [2]

Artinya: “Dari Abdillah beliau berkata: Rasul SAW bersabda: “Tidaklah halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya adalah utusanNya, kecuali dengan tiga sebab, yaitu: pembunuh tanpa alasan yang benar, zina muhsan (orang yang pernah menikah tetapi berzina), dan orang yang lari dari agamanya serta memisahkan diri dari kaum muslimin”

  1. Malikiyah dan Syafi’iyyah: dia berstatus muslim dan wajib diperintahkan untuk segera bertaubat kepada Allah SWT. Adapun jangka waktu yang dialokasikannya ialah 3 hari. Jika dalam rentan waktu 3 hari tersebut, dia berkenan untuk melaksanakan shalat, maka tidak ada sanksi baginya. Dan sebaliknya, jika dalam rentan waktu tersebut dia tidak mau melaksanakan shalat, maka baginya boleh untuk dibunuh sebagai hukuman atau sanksi, sekalipun dia tetap menyandang status “muslim”. Hal ini didasarkan kepada al-Qur’an sebagaimaa yang tertera dalam surat al-Baqarah ayat 114

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (Q.S. al-Baqarah: 114)

  1. Ahmad bin Hanbal: dia berstatus kafir dan boleh dibunuh. Adapun argumentasi yang digunakannya ialah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ[3]

Artinya: “Dari Abdillah bin Buraidah, dari ayahnya beliau berkata: Rasul SAW bersabda: perjanjian antara kami dan mereka ialah shalat, barang siapa yang meninggalkan shalat, maka dia kafir”.

Mas M. Roby yang dimulyakan oleh Allah SWT, jika anda menjumpai orang muslim sebagaimana yang ditanyakan diatas, sebaiknya diberikan nasehat, bimbingan, dan arahan terlebih dahulu sebelum memberikan tindakan dan sanksi sehingga tidak menimbulkan dan kerusuhan yang justru akan mengakibatkan madarrah (bahaya) baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Demikianlah penjelasan tentang pandangan ulama’ yang berkaitan dengan status seorang muslim yang meninggalkan shalat serta konsekuensinya. Semoga bermanfaat, amin !


[1] Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairi al-Naisaburi, Sahih Muslim, Juz I, hal 160. Hadis No. 139

[2] Sahih Bukhari, Juz XXII, hal. 445. Hadis No. 6878

[3] Sunan Turmudzi, Juz X, hal. 107. Hadis No. 2830

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s