Panduan Ramadhan 9 : Qodho’ Puasa

Standar

q1Yang dimaksud dengan qodho’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya. (Lihat Roudhotun Nazhir, Ibnu Qudamah Al Maqdisiy, 1/58).

Qodho’ Ramadhan bagi Orang yang Tidak Berpuasa Tanpa Udzur

Ada beberapa orang, pada bulan Ramadhan malah tidak berpuasa. Bukan karena alasan sakit atau bersafar, namun mereka tidak berpuasa karena malas-malasan. Mereka berpuasa tanpa ada udzur sama sekali. Perlu diketahui bersama bahwa meninggalkan puasa semacam ini adalah termasuk dosa besar.

Lalu apakah orang yang meninggalkan puasanya tanpa udzur diharuskan mengqodho’ puasanya? Pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh Ibnu Hazm. Beliau berpendapat bahwa tidak wajib mengqodho’ puasa bagi orang yang membatalkan puasanya dengan sengaja tanpa ada udzur. Alasannya, karena ibadah yang memiliki batasan waktu awal dan waktu akhir, apabila seseorang meninggalkannya tanpa udzur (tanpa alasan), maka tidak disyariatkan baginya untuk mengqodho’ kecuali jika ada dalil yang baru yang mensyariatkannya.

Juga terdapat perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang menegaskan hal ini. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa berbuka di siang hari bulan Ramadhan tanpa ada rukhsoh (keringanan), maka perbuatan semacam ini tidak bisa ditembus dengan puasa setahun penuh.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya no. 9784 dengan sanad yang shahih)

Jadi, orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa ada alasan sama sekali, maka dia tidak diwajibkan untuk mengqodho’. Inilah pendapat yang lebih kuat. Namun ingat, orang yang melakukan semacam ini punya kewajiban untuk bertaubat karena yang dia lakukan adalah dosa besar. Syarat taubat yang harus dipenuhi adalah dilakukan dengan ikhlas, menyesali dosa yang telah dilakukan, tidak terus menerus berbuat dosa, bertekad tidak mengulangi dosa tersebut dan dilakukan sebelum berakhirnya waktu diterimanya taubat.

Qodho’ Ramadhan Boleh Ditunda

Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku masih memiliki utang puasa.

Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Ibnu Hajar mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil mengenai bolehnya mengundurkan qodho’ Ramadhan baik mengundurkannya karena ada udzur atau pun tidak.” (Fathul Bari, 6/209)

Akan tetapi yang dianjurkan adalah qodho’ Ramadhan dilakukan dengan segera berdasarkan firman Allah Ta’ala yang memerintahkan untuk bersegera dalam melakukan kebaikan (yang artinya), “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al Mu’minun: 61)

Mengakhirkan Qodho’ Ramadhan hingga Ramadhan Berikutnya

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz –pernah menjabat sebagai ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia)- ditanyakan, “Apa hukum seseorang yang meninggalkan qodho’ puasa Ramadhan hingga masuk Ramadhan berikutnya dan dia tidak memiliki udzur untuk menunaikan qodho’ tersebut. Apakah cukup baginya bertaubat dan menunaikan qodho’ atau dia memiliki kewajiban kafaroh?”

Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Dia wajib bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dia wajib memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan disertai dengan qodho’ puasanya. Ukuran makanan untuk orang miskin adalah setengah sha’ Nabawi dari makanan pokok negeri tersebut (kurma, gandum, beras atau semacamnya) dan ukurannya adalah sekitar 1,5 kg sebagai ukuran pendekatan. Dan tidak ada kafaroh (tebusan) selain itu. Sebagaimana hal ini difatwakan oleh beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Namun apabila dia menunda qodho’nya karena ada udzur seperti sakit atau bersafar, atau pada wanita karena hamil atau menyusui dan sulit untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban bagi mereka selain mengqodho’ puasanya.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/347)

Tidak Wajib Untuk Berurutan Ketika Mengqodho’ Puasa

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

 فَعِدَّةٌ۬ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ‌ۗ

“Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tidak mengapa jika (dalam mengqodho’ puasa) tidak berurutan” (Dikeluarkan oleh Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad- dan juga dikeluarkan oleh Abdur Rozaq dengan sanad yang shahih)

Barangsiapa Meninggal Dunia, Namun Masih Memiliki Utang Puasa

Bagi orang yang meninggal dunia, namun masih memiliki utang
puasa, maka dia dipuasakan oleh ahli warisnya, baik puasa nadzar atau pun
puasa Ramadhan. Dalilnya adalah hadits dari ‘Aisyah,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya mempuasakannya. ” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147). Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah ahli waris (Lihat Tawdhihul Ahkam, 3/525).

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia memiliki utang puasa selama sebulan [dalam riwayat lain dikatakan: puasa tersebut adalah puasa nadzar], apakah aku harus mempuasakannya?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan.” (HR. Bukhari no. 1953 dan Muslim no. 1148)

Bagi orang yang mati dalam keadaan masih memiliki utang puasa, dia tidak terlepas dari tiga kemungkinan:

1. Orang yang mati tersebut masih memiliki udzur hingga dia meninggal dunia dan dia tidak mampu membayar qodho’ puasanya, untuk orang semacam ini tidak perlu dibayar qodho’ puasanya.

2. Orang yang mati tersebut ketika dia hidup sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk membayar qodho’ puasanya, namun dia tidak menunaikannya sampai dia mati, maka untuk orang semacam ini dipuasakan oleh ahli warisnya.

3. Orang yang mati tersebut memiliki utang nadzar namun belum ditunaikan, pada saat ini dipuasakan oleh ahli warisnya.

Boleh juga beberapa hari utang puasa dibagi kepada ahli warisnya. Kemudian beberapa ahli waris –boleh laki-laki atau pun perempuan-mendapatkan satu atau beberapa hari puasa. Boleh juga mereka membayar utang puasa tersebut dalam satu hari dengan serempak beberapa ahli waris melaksanakan puasa sesuai dengan utang yang dimiliki oleh orang yang telah meninggal dunia tadi (Lihat Tawdhihul Ahkam, 3/525).

Sumber :  Panduan Ramadhan, Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah, oleh Muhammad Abduh Tuasikal

 

One thought on “Panduan Ramadhan 9 : Qodho’ Puasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s