Bohong, NO..!! Jujur, YES..!!

Standar

010712_honest_boy_pencil_sharpeners_tKisah #1

Alkisah ada seorang lelaki yang bekerja sebagai pengembala domba. Setiap hari laki-laki itu pergi ke bukit bersama dengan domba-dombanya. Mulai pagi hingga sore dia menunggui domba-dombanya itu. Suatu ketika laki-laki itu berteriak, “tolong… tolong… ada serigala..! tolong.. tolong..!”

Penduduk desa terdekat pun mendengar teriakan pengembala itu. Mereka bergegas mengambil berbagai macam senjata dan berlari ke arah sumber teriakan. Sesampainya di bukit, para penduduk desa melihat ada seorang laki-laki dan sedang mengembala domba.

“kamukah yang berteriak minta tolong tadi?”, tanya penduduk desa.

“iya”, jawab pengembala.

“mana serigalanya?”, penduduk desa bertanya lagi.

Pengembala itu tidak menjawab. Justru dia tertawa terbahak-bahak. “Ha…ha..ha..!!, kalian tertipu. Ha..ha..ha..!!”

“apa maksudmu?”, penduduk desa masih kurang mengerti.

“ha..ha..ha..!! dasar kalian orang bodoh. Mudah sekali ditipu. Tidak ada serigala. Aku berbohong. Ha..ha..ha..!!”

Mendengar jawaban pengembala seperti, beberapa penduduk desa hendak marah. Namun yang lain mencegahnya, “yaudah kita pulang saja”. Para penduduk desa pun kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan kecewa. Sementara itu, pengembala tadi masih saja tertawa terbahak-bahak.

Beberapa hari kemudian, pengembala itu berteriak minta tolong lagi. “tolong..tolong..tolong..! ada serigala..! tolong..tolong..tolong..!”

Penduduk desa yang mendengar pun segera berlari menuju bukit, sumber teriakan minta tolong itu. penduduk desa itu berlari ke bukit dengan membawa berbagai macam senjata. Mereka hendak menolong laki-laki yang minta tolong tersebut. Sesampainya di bukit, penduduk desa tidak menemukan serigala satu pun. Yang mereka temui justru adalah seorang pengembala yang tertawa terbahak-bahak. Pengembala yang sama dengan pengembala yang membohongi mereka beberapa hari sebelumnya.

“ha..ha..ha..!! kalian tertipu lagi. Ha..ha..ha..!”

Penduduk desa pun kembali ke rumah masing-masing dengan rasa kecewa yang sangat. Tentu saja. Mereka berniat ingin membantu orang yang kesulitan. Ehhh.. ternyata mereka malah kena tipu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Lelaki itu mengembala domba-dombanya di bukit. Mulai dari pagi hingga sore hari. Sampai suatu ketika. Pada saat hari mulai gelap menjelang sore. Pemuda tadi hendak membawa pulang domba-dombanya. Namun tanpa dia duga, segerombolan serigala muncul dari hutan. Pengembala itu pun ketakutan dan berteriak minta tolong. “tolong..tolong..tolong..!! ada serigala. Tolong..tolong..tolong..!! ada serigala..!!”

Penduduk desa mendengar teriakan pengembala itu. Mereka berbicara satu sama lain. “ooo.. itu kedengarannya sama dengan suara pengembala yang membohongi kita kemarin. Paling-paling dia bohong lagi. Udah biarin aja”. Penduduk yang lain pun menyahut, “iya. Benar itu. Pasti dia bohong lagi”. Penduduk desa pun mengabaikan teriakan pengembala itu. Tidak ada satu orang pun yang bergegas menuju bukit untuk menolong. Mereka sudah sangat yakin bahwa pengembala itu berbohong.

Sementara itu, pengembala yang sedang ketakutan itu bimbang. Ia teriak berkali-kali namun tidak ada satu orang pun yang datang membantu. Ia sangat ketakutan. Tapi dia juga tidak mau serigala-serigala itu memangsa domba-dombanya. Dan… KRAWWWW. Ia telat melarikan diri. Gerombolan serigala itu bukan hanya memangsa domba-doma, tetapi juga pengembalanya. Akhirnya pengembala itu mati dimakan serigala.

Itulah akibat dari berbohong. Ketika seseorang berbohong, sebenarnya dia sedang membangun image bahwa dia adalah pembohong. Omongannya tidak bisa dipercaya. Sekali, dua kali. Lama-kelamaan orang-orang akan percaya, bahkan meyakini bahwa dia adalah pembohong. Jika hal itu terjadi, maka orang yang telah menjadi pembohong tersebut tidak akan pernah dipercaya oleh orang lain. Walaupun pada suatu ketika dia berkata benar. Orang-orang terlanjur yakin bahwa dia adalah pembohong.

Kisah #2

Ada seorang Kaisar di sebuah negeri di timur nan jauh. Sang Kaisar sudah tua dan renta. Kaisar tersebut tidak memiliki anak laki-laki yang akan dijadikan sebagai pewaris tahta. Kaisar itu juga tidak memiliki anak perempuan. Konon istrinya mandul. Karena saking cintanya kepada sang istri, Kaisar itu tidak mau menikah dengan wanita lain. Kaisar itu merasa bahwa dia sudah sangat lemah dan harus mencari orang yang akan dijadikannya sebagai pewaris tahta.

Kaisar kemudian menunjuk pejabat kerajaan agar mengadakan seleksi terhadap para pemuda terbaik di negeri itu. Seleksi tersebut dilaksanakan dengan sangat ketat. Faktor kekuatan fisik dan kecerdasan akal menjadi sangat penting. Setelah melalui proses seleksi yang cukup lama, akhirnya terpilih 10 pemuda yang akan langsung diseleksi oleh Kaisar.

Sepuluh pemuda pilihan itu menghadap langsung kepada sang Kaisar. Dengan penuh kewibawaan sang Kaisar menyampaikan apa yang menjadi tujuan seleksi itu. setelah itu sang Kaisar berujar, “wahai pemuda pilihan. Negeri kita ini adalah negeri agraris. Pertanian adalah mata pencaharian yang sangat penting bagi rakyat kita. Jika pertanian kita bagus, maka rakyat akan hidup sejahtera. Begitu juga sebaliknya”.

Sang Kaisar melanjutkan, “Ini ada sepuluh benih kedelai. Aku akan membagikannya kepada kalian satu per satu. Tanamlah. Rawatlah dengan baik. Setelah 3 bulan, datanglah kemari dengan membawa tumbuhan kedelai hasil dari benih ini. Siapa yang terbaik, dia akan mewarisi tahta kerajaan ini”.

Kesepuluh pemuda pilihan itu pun pulang ke rumah masing-masing dengan membawa satu benih kedelai. Mereka menanam benih itu. Mereka menyiraminya, memupuknya, dan menjaganya dengan baik. Setelah 3 bulan berlalu, sesuai dengan kesepakatan mereka kembali menghadap Kaisar. Kali ini dengan membawa tanaman kedelai hasil dari benih pemberian Kaisar.

Satu per satu pemuda pilihan itu memamerkan tanaman kedelainya kepada Kaisar. Ada tanaman kedelai yang memiliki batang yang tinggi dan kuat. Ada yang berbatang pendek tapi membuahkan kedelai yang banyak. Ada pula yang membuahkan kedelai yang berwarna warni. Sungguh sangat luar biasa. Sang Kaisar mengamati satu per satu tumbuha kedelai itu dengan seksama. Hingga suatu ketika pandangan Kaisar terhenti pada sebuah pot yang dibawa seorang pemuda yang gagah. Di pot itu hanya ada tanah. Tidak ada tumbuhan kedelai. Pada saat itu, pemuda-pemuda yang lain mulai menertawai pemuda yang gagah ini. Sang Kaisar kemudian bertanya kepada pemuda yang bernama Fang itu.

“siapa namamu?”, tanya Kaisar.

“maaf Kaisar. Nama saya Fang”, jawab pemuda itu dengan tenang. Sementara itu pemuda-pemuda yang lain semakin menertawakannya.

“mana tumbuhan kedelaimu?”, tanya Kaisar lagi.

“maaf Kaisar. Sesuai dengan perintah Kaisar, saya membawa benih kedelai itu pulang dan menanamnya di pot. Saya sirami setiap hari. Saya beri pupuk benih itu setiap hari. Saya jaga siang dan malam agar tidak ada satu makhluk pun yang merusaknya. Saya melakukannya selama tiga bulan. Seperti yang Kaisar perintahkan. Dan sekarang saya membawa benih yang saya tanam di pot tersebut. Saya juga tidak mengerti kenapa benih itu tidak tumbuh. Saya hanya melaksanakan perintah Kaisar”, Fang menjelaskan kepada Kaisar dengan gamblang.

Sang Kaisar pun kemudian berjalan pelan menuju singgasananya. Kaisar menghadap kepada pejabat kerajaan dan orang-orang yang hadir di tempat itu. Dengan suara lantang sang Kaisar berpidato. “Wahai rakyatku. Wahai seluruh pejabat kerajaan. Sesuai dengan apa yang aku janjikan sebelumnya, hari ini aku akan memilih seorang pemuda terbaik di negeri ini yang akan mewarisi tahtaku. Pemuda terbaik inilah yang akan memimpin negeri ini. Wahai rakyatku. Wahai para pejabat kerajaan. Tiga bulan yang lalu aku membagikan 10 benih kedelai kepada 10 pemuda pilihan. Aku perintahkan kepada mereka untuk memanam dan merawatnya dengan baik. Siapa yang terbaik, dialah yang akan terpilih. Ketahuilah, 10 benih kedelai itu telah aku rebus sebelumnya. Jadi benih itu telah mati dan tidak mungkin bisa tumbuh”.

Suana pun berubah menjadi agak riuh. Sesaat keadaan kembali menjadi tenang.

“Wahai rakyatku. Wahai para pejabat Kerajaan. Saksikanlah. Hari ini aku memilih Fang sebagai pewaris tahta kerajaan ini. Seorang pemimpin, selain memiliki fisik yang kuat dan akal yang cerdas, haruslah merupakan orang yang jujur. Orang yang bisa dipercaya. Dan Fang adalah orang yang tepat”.

Tidak lama kemudian Fang pun secara resmi diangkat sebagai Kaisar kerajaan. Konon, di bawah kepemimpinan Fang, negeri di timur itu menjadi negeri yang makmur. Rakyatnya hidup sejahtera. Mereka sangat mencintai Kaisar mereka.

Begitulah kehidupan orang yang jujur. Walaupun kadang-kadang terasa kurang enak, dihina, dilecehkan, dan diremehkan. Toh akhirnya, emas tetaplah emas. Kilaunya akan kelihatan juga. Jujurlah. Jujurlah. Dan tetaplah jujur. Jujur sama dengan mujur.

[tj/LP2A PBSB]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s