Mari Menshalihkan Anak-anak Kita

Standar

orang-tua-12Bapak Ibu yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Anak yang sholih memang merupakan dambaan setiap orang tua karena ialah sumber kebahagiaan bagi orang tua baik di dunia maupun di akhirat. Saya yakin seratus persen bahwa Anda pun menginginkan putra-putri Anda menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah. Lalu, bagaimana cara mensholihkan anak-anak kita? Mari kita bersama-bersama belajar dari orang-orang terdahulu yang sukses dalam mensholihkan anak-anak mereka. Mari kita mempelajari bersama-sama tuntunan Alloh dan Rosululloh dalam membentuk anak-anak yang sholih. Berikut adalah tips-tips agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah.

1. Senantiasa berdoa kepada Alloh ta’ala

Doa adalah inti ibadah. Doa adalah ungkapan seorang hamba yang butuh kepada Robb-nya. Doa adalah bentuk kesadaran seoarang hamba bahwa dirinya adalah makhluq yang lemah, Alloh ta’ala lah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Memang begitulah seharusnya. Kita sebagai hamba Alloh ta’ala, hendaknya senantiasa dengan penuh harap dan keyakinan, berdoa kepada-Nya.

Di dalam al-Quran ada beberapa doa agar memperoleh keturunan yang baik, anak-cucu yang sholih. Marilah kita senantiasa berdoa dengan penuh harap kepada Alloh ta’ala, agar kita dianugerahi anak cucu yang sholih sholihah…

 

“Wahai Tuhanku, berilah aku dari sisiMu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa” (Ali Imron: 38)

 

“Wahai Tuhanku, berilah aku (anak) yang termasuk orang-orang yang sholih” (Ash-shoffat: 100)

 

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan : 74)

2. Memakan dan menafkahi keluarga dengan harta yang halal

Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam telah bersabda: “Tiada mendatangkan faedah bagi daging yang tumbuh dari sumber yang haram, ‎melainkan nerakalah tempat yang sewajarnya bagi daging itu.” (HR Imam Turmudzi)‎

Bukankah sari-sari makanan yang kita makan itu merupakan bahan baku tubuh kita kita? Menjadi darah dan daging kita? Lalu bagaimana jika “bahan” tubuh kita itu merupakan sesuatu yang harom? Menurut hadits tersebut bisa dikatakan bahwa makanan yang haram adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan seseorang menjadi calon penghuni neraka, termasuk dalam hal ini anak yang durhaka, baik kepada Alloh ta’ala maupun kepada orang tua.

Sebaliknya, makanan yang halal, baik dzatnya maupun cara memperolehnya, merupakan pendorong yang kuat bagi manusia untuk mengerjakan berbagai kebaikan.

Firman Alloh ta’ala yang maksudnya:

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Mukminun: 51)

Ibnu Katsir menyatakan: “Allah ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimussalaam agar makan makanan halal dan beramal shaleh. Disandingkannya dua perintah ini mengisyaratkan bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Dan sungguh mereka benar-benar telah mentaati kedua perintah ini.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/477)

Sabda Rasulullah Shollalloohu ‘alaihi wasallam yang artinya:

“Kewajiban seorang ayah terhadap anaknya, (antara lain): hendaklah ia memberi nama yang baik; mendidiknya dengan baik; mengajarkan menulis, berenang dan memanah; tidak memberinya nafkah kecuali dengan rizqi yang halal; dan menikahkan jika usianya telah cukup”. (HR. Hakim).

Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam sangat berhati-hati dalam persoalan makanan bagi anak. Ketika Nabi lagi di masjid, ada orang yang kirim kurma, kemudian cucunya datang dan mengambil sebuah kurma lalu dimakannya. Nabi bertanya kepada ibunya, “Ini anak tadi mengambil kurma dari mana?” Sampai akhirnya, dipanggilnya Saidina Hasan dan dicongkel kurma dari mulutnya. Ini maknanya apa? Nabi tidak mau anak cucunya itu memakan sesuatu yang haram, walaupun ia masih kecil dan tidak ada dosa baginya, karena itu akan memberikan pengaruh kepadanya kelak ia besar.

Bapak/ibu yang berharap anak yang sholih, mari kita makan hanya makanan yang halal, baik dzatnya maupun cara memperolehnya, dan memberi makan anak-anak kita hanya dengan makanan yang halal

3. Mendidik anak dengan pendidikan yang baik

a. Mendekatkan anak kepada Alloh ta’ala

Ketika sepasang suami istri berhubungan intim, keduanya disunnahkan untuk membaca doa-doa tertentu, minimal bismillah. Semasa janin berada di dalam kandungan, ayah dan ibu pun disarankan untuk memperbanyak doa kepada Alloh ta’ala. Pada saat anak baru saja lahir, orangtua dianjurkan untuk membisikkan kalimat adzan dan iqomah di telinga kanan dan kiri si jabang bayi. Semua itu dilakukan agar sang anak memiliki ikatan yang kuat dengan Alloh ta’ala.

Begitu juga di saat tumbuh kembang anak, orang tua sangat disarankan untuk mendekatkan buah hatinya kepada Alloh ta’ala. Dengan merasa dekat kepada Alloh ta’ala, sang anak akan memiliki kontrol diri yang baik. Dia akan merasa bahwa kapan pun dan di mana pun ia berada, Alloh ta’ala senantiasa bersama dia, mengawasi dan menjaganya. Anak yang seperti ini besar kemungkinan menjadi anak yang sholih, baik kepada Robbnya, baik kepada orang tuanya.

Tips-tips mendekatkan anak kepada Alloh ta’ala:

–          Kenalkan kepada anak kita bahwa bumi, langit, matahari, bulan, bintang, laut, dan gunung itu diciptakan oleh Tuhan. Dan Tuhan kita itu bernama Alloh ta’ala.

–          Tunjukkan kegembiraan kita kepada anak saat tiba waktu sholat

–          Ajaklah anak untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Jelaskan kepadanya bahwa Alloh ta’ala sangat mencintai orang-orang yang gemar melaksankan sholat berjama’ah.

–          Ajaklah anak untuk senantisa berdoa seperti pada saat hendak makan, mau masuk kamar mandi, menjelang tidur, ketika keluar rumah, ketika naik kendaraan, setelah sholat, dan lain-lain.

b. Mendekatkan anak kepada Nabi Muhammad

Nabi bersabda yang artinya:

“Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara; cinta kepada nabi kalian, cinta kepada keluarga Nabi, dan membaca al-Quran”

Anak belajar lebih banyak dengan cara meng-copy apa yang dia dengar, dia lihat, dan dia rasakan. Oleh karena itu, cara terbaik dalam mendidik anak salah satunya adalah dengan mengenalkan anak kepada seorang tokoh yang perilakunya layak untuk ditiru. Di dunia ini, Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam lah manusia yang paling layak dijadikan teladan dan panutan. Apa yang beliau kerjakan dan katakan adalah pelajaran berharga bagi umat Islam karena semuanya bersumber dari wahyu dan bimbingan ilahi.

Tips-tips agar anak mencintai Nabi Muhmmad

–          Kita hendaknya sering-sering bercerita tentang Nabi Muhammad kepada anak-anak kita dengan penuh kesungguhan, ekspresif, dan menarik sehingga sang anak merasa bahwa cerita tentang Nabi adalah cerita yang paling asyik untuk didengar.

–          Sediakan bacaan tentang Nabi Muhammad. Pilihlah ragam buku sesuai dengan usia anak-anak kita.

–          Tempelkan poster hadits Rosulillah di berbagai sudut rumah.,

–          Putarlah lagu-lagu yang menamankan cinta kepada Nabi. Anak-anak sangat menyukai lagu atau music.

–          Ajarilah anak-anak Anda untuk memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi

–          Ceritakan perilaku nabi dalam melakukan berbagai aktifitas, misalkan ketika makan, ketika mau tidur, dan ketika berjualan di pasar.

Dengan senantiasa mendongengkan kisah Nabi, menceritakan sejarah hidup Nabi, serta menyediakan berbagai bacaan terkait kehidupan Nabi, kita berharap anak-anak kita meng-copy perilaku-perilaku Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.

c. Mendekatkan anak kepada al-Quran

Nabi bersabda yang artinya:

“Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara; cinta kepada nabi kalian, cinta kepada keluarga Nabi, dan membaca al-Quran”

Rasa-rasanya, al-Quran adalah bacaan yang paling layak untuk kita tanamkan ke anak-anak kita agar rajin dan senang membacanya. Mengajarkan anak untuk membaca al-Quran dan sedikit demi sedikit memahami kandungannya adalah cara terbaik untuk mengenalkan dan mendekatkan anak kepada Alloh ta’ala.

Disamping itu, bacaan al-Quran adalah dzikr terbaik yang dengannya kita berharap hati dan jiwa anak-anak kita menjadi jernih. Dengan begitu, semoga kita mendapatkan kemudahan dalam mendidik mereka menjadi anak-anak yang baik.

Tips-tips agar anak dekat dengan al-Quran

–          Ajarkan al-Quran kepada anak dengan cara yang menyenangkan.

–          Jelaskan kepada anak bahwa Alloh ta’ala sangat mencintai orang yang gemar membaca al-Quran

–          Tanamkan kepada anak bahwa ketika kita membaca al-Quran, sebenarnya kita sedang berkomunikasi dengan Alloh ta’ala.

–          Berilah pujian yang tulus kepada anak setiap kali dia belajar al-Quran

–          Buatlah permainan-permainan tentang al-Quran

–          Bimbinglah anak Anda untuk memahami kandungan al-Quran. Misalnya dengan membaca terjemah tafsir al-Quran yang ringkas.

d. Menjadi tauladan yang baik bagi anak

Anak-anak, terutama pada masa 0-6 tahun, adalah pembelajar yang super canggih. Apa pun yang dia dengar, dia lihat, dan dia rasa akan dia pelajari dengan tingkat penangkapan yang hebat dan daya memori yang kuat.

Kalau bapak-ibu ingin agar sang buah hati rajin sholat lima waktu, maka sudah seharusnya bapak ibu memberikan contoh terlebih dulu. Ketika mengajar anak-anak di TPA saya sering bertanya kepada mereka, “siapa yang pagi ini mengerjakan sholat subuh?” Di antara mereka ada yang angkat tangan sambil menjawab, “saya..!” Sementara yang lain diam saja tidak mau menjawab. Mereka yang diam itu beberapa mengaku bahwa mereka tidak mengerjakan sholat subuh pagi itu. Pertanyaan tersebut sering saya ulang dan hasilnya tidak jauh beda. Kalau pun ada beda itu sangat kecil. Yang biasanya angkat tangan dan menjawab “iya” ya anak-anak itu. Yang diam dan kadang-kadang mau mengaku kalau mereka tidak mengerjakan sholat subuh ya anak-anak itu. Kemudian saya mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut dengan mengajak anak-anak ngobrol. Mereka yang dengan percaya diri menjawab “iya” bercerita bahwa di rumah mereka sholat subuh berjama’ah dengan bapak-ibu mereka. Sedangkan yang mengaku tidak mengerjakan sholat subuh bercerita bahwa mereka tidak “diajak” oleh bapak atau ibu mereka untuk mengerjakan sholat dan yang lain mengaku kalau salah satu atau kedua orang tua mereka –memang- tidak mengerjakan sholat.

Kalau bapak ibu ingin agar sang buah hati senantiasa berkata sopan, maka sudah seharusnya bapak ibu senantiasa berkata sopan. Kalau setiap hari ketika berbicara dengan sang anak bapak ibu menggunakan bahasa yang halus dan sopan, maka sang anak akan terbiasa dengan bahasa yang halus dan sopan tersebut. Ia pun otomatis akan meniru dengan senantiasa berkata halus dan sopan. Kenapa beberapa anak kecil di sekitar kita, termasuk di dekat rumah saya, sudah bisa misuh dengan fasih?  Jawabannya: Tanya saja kepada bapak ibu dia. Emang si anak bisa misuh sendiri kalau bapak ibunya tidak memberi contoh?! Saya pun mendapati kenyataan yang memprihatinkan. Ada diantara anak didik saya di TPA yang kalau sedang marah kepada temannya secara spontan berkata kotor (baca: misuh) bahkan kadang-kadang memukul temannya. Saya mencoba mencari tahu kenapa anak ini kok kasar dan keras seperti itu. Beberapa kali saya melihat bapak atau ibu si anak tersebut berkata kasar kepada sang anak ketika mereka berbicara kepada si anak. Kadangkala saya pun mendapati bapak-ibu tersebut memisuhi bahkan memukul sang anak. Jadi benar dugaan saya.

Setiap anak lahir dengan keadaan polos tidak tahu apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Ia bagaikan kertas yang putih bersih. Bahkan setiap anak lahir dalah keadaan fitrah; cenderung untuk berbuat kebaikan. Bapak ibunya lah yang kemudian menulis dan melukis di atas kertas putih itu. Apa pun yang bapak-ibu praktekkan di depan sang anak, dengan cerdas dia akan menirunya. Ada dikatakan, “seorang anak mungkin gagal dalam memahami apa yang orang tua katakan, tapi seorang anak tidak pernah gagal dalam meniru prilaku”.

e. Mendidik anak dengan penuh kasih sayang

Menurut berbagai referensi ilmu Psikologi, kebutuhan yang paling mendasar bagi seorang anak adalah attachment atau kelekatan. Kelekatan ini bisa dibangun jika sang pengasuh, terutama Ibu, memberikan rasa aman, kedekatan baik secara fisik maupun emosi, dan kasih sayang yang cukup kepada anak. Anak yang mendapatkan kelekatan seperti ini akan tumbuh menjadi anak yang sehat jiwa raganya serta tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Ketika anak tumbuh tanpa mendapatkan banyak kasih sayang dari orangtuanya, saat dewasa dia bisa merasakan hidupnya penuh masalah Begitulah pendapat dari Ratih Ibrahim yang sudah lebih dari 20 tahun bekerja sebagai psikolog profesional.

Kenapa anak menjadi durhaka kepada orang tua?

Kemungkinan besar, tentu dengan tanpa mengesampingkan kehendak Alloh ta’ala, dikarenakan sang anak tidak cukup mendapatkan rasa aman, kedekatan dan kasih sayang dari orang tua.

Nabi Saw. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya dan menghinanya”.

Suatu hari, Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam didatangi seorang perempuan yang bernama Sa’idah binti Jazi. Ia membawa anaknya yang baru berumur satu setengah tahun. Rosul kemudian memangku anak tersebut. Tiba-tiba, si anak kencing (mengompol) di pangkuan Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam. Spontan, sang ibu menarik anaknya dengan kasar. Seketika itu juga, Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam menasihatinya. “Dengan satu gayung air, bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi, luka hati anakmu karena renggutan mu dari pangkuanku tidak bisa di obati dengan bergayung-gayung air,” ujar Rosul.

Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR Bukhari).

Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- berkata : “Nabi shollallohu alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318)

Begitulah Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mencontohkan bagaimana mendidik anak dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Ada cerita dari pengalaman seorang ibu yang pendidikannya hanya sampai SD dan memiliki 13 anak, tetapi semuanya berhasil. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepada si ibu itu, “Doa apa yang dipakai ibu sehingga semuanya berhasil?” Jawabnya, “Saya dan suami saya tidak banyak berdoa. Tapi, bila anak saya bersalah atau saya tidak senang perbuatannya, saya selalu berkata, “Mudah-mudahan Tuhan memberimu petunjuk”. Jadi, anak ini tidak dimaki, dikutuk atau dimarahi. Dan, kami kedua orang tuanya tidak pernah memberi makan mereka dengan makanan yang haram”.

 

Bapak Ibu yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Demikian beberapa hal yang bisa kita usahakan agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholih-sholihah. Mari kita amalkan bersama-sama. Ayo semangat..!! Bukankah anak yang sholih merupakan sumber kebahagiaan bagi kita di dunia dan di akhirat? Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan kita pertolongan dan petunjuk untuk mendidik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang sholih sholihah. Amin. [tj]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s