Nabiku, I love you…

Standar

cinta-Nabi-273x300

Ya nabi salam padamu

Ya rosul salam padamu

Kekasih salam  padamu

Sholawat selalu untukmu

 

Kalau cinta kepada nabi

Baca sholawat kepada nabi

Kalau Allah tak mengutus nabi

Gelaplah jiwa gelaplah hati

 

Nabi Muhammad utusan ilahi

Wajahnya jernih berseri-seri

Kalau tersenyum bertemu insan

Terhapus sedih dan kesusahan

 

Akhlaq nabi bagai bunga-bungaan

Harum semerbak tiada tandingan

Wahai nabi wahai junjungan

Kami senang mengikut tuan

 

Ya Allah ilahi robbi

Kami mohon sepenuh hati

Di alam akhirat nanti

Izinkan kami bertemu nabi ….

 

Bait-bait syair di atas digubah oleh Abah Zawawi Imron, satrawan kenamaan asli Sumenep, Madura, penerima penghargaan The S.E.A Write Award di Bangkok Thailand pada tahun 2012. Syair tersebut merupakan salah satu ekspresi kecintaan beliau kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Memang, kita sebagai umat Islam seharusnya dan selayaknya mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Kenapa? Karena cinta kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam merupakan ciri orang yang beriman. Bagaimana kita bisa beriman dan beragama Islam secara sempurna tanpa mencitai manusia yang membawa dan menyampaikan risalah agama Islam?

Alloh ta’ala pun memerintahkan kita untuk mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.

“Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [QS. At Taubah: 24]

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” [QS. Al-Ahdzab:6]

Mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam berarti mencintai Alloh ta’ala. Bukankah Nabi shollallohu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dicintai oleh Alloh ta’ala?

Kita semestinya mencintai Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada orang tua, anak, dan semua manusia, bahkan melebihi cinta kita kepada diri kita sendiri.

Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Pada suatu hari Umar bin Khottob rodliyallohu ‘anhu berkata kepada Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Alloh, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Alloh, sekarang Engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari).

Dengan mencintai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, kita ‘kan dapat merasakan manisnya iman.

Dari Anas bin Malik ra., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ada tiga hal, barang siapa melaksanakan ketiga-tiganya maka ia akan merasakan kelezatan iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah dan orang yang benci untuk kembali kekafiran sebagaimana benci untuk masuk ke dalam neraka.”(HR. Bukhari).

Dan dengan mencintai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, semoga kelak di akhirat kita bisa berkumpul dengan beliau.

Anas bin Malik rodhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rosulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam.” Maka Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385])

Mari kita mencitai Nabi shollallohu alaihi wa sallam. Semoga saja, dengan mencintai beliau, kelak di akhirat Alloh ta’ala memperkenankan kita bertemu dan berkumpul bersama kekasih kita, Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, di surga-Nya. Amin. (tj)

 

Ya Allah ilahi robbi

Kami mohon sepenuh hati

Di alam akhirat nanti

Izinkan kami bertemu nabi ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s