Anak saya belum bisa membaca, menulis, dan berhitung, padahal sudah kelas 2 SD. Bagaimana ya?

Standar

utama-belajar_mengeja_470Anak saya sudah kelas 2 SD tapi dia belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. Teman-teman sekelasnya sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung semua. Hanya dia yang belum bisa. Jadinya dia sering dimarahi gurunya karena tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Apakah anak saya mengalami kelainan? Saya sangat kawatir. Mohon jawabannya. Terimaksih.

Jawaban:

Kenapa Bapak-Ibu harus kawatir? Ada seseorang yang terkenal tidak bisa baca-tulis. Namun karena akhlaqnya yang mulia, beliau dikagumi manusia sejagat dan ajarannya diikuti banyak orang hingga sekarang. Dialah nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Contoh lainnya adalah Leonardo Da Vinci. Ia baru bisa membaca pada usia 12 tahun. Namun hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi arsitek, musisi, penulis, pematung dan pelukis hebat. Salah satu lukisannya yang terkenal adalah Monalisa.

Yang dibutuhkan anak untuk menjadi orang yang besar dan hebat adalah bukan kemampuan membaca, menulis, dan berhitungnya. Namun yang pertama dan utama adalah akhlaqul karimah atau karakter yang baik. Bapak Ibu tidak percaya? Coba bayangkan, Anda adalah seorang bos perusahaan. Anda membutuhkan asisten khusus. Mana yang Anda pilih, seseorang yang sangat pandai namun tidak bisa dipercaya? Atau seseorang yang kepandainnya biasa-biasa saja namun dapat dipercaya?

Sebaiknya kita, orang tua, benar-benar memperhatikan dan menomorsatukan akhlaq yang mulia ini dalam membina anak kita sejak usia dini karena pembentukan karakter itu lebih mudah dilakukan ketika anak masih kecil hingga usia SMA. Ketika anak sudah lulus SMA, biasanya karakternya sudah sulit dirubah. Mana yang lebih Anda sukai? Anak yang jujur, disiplin, bertanggungjawab, perhatian kepada orang tua, dan suka menolong orang lain? Atau anak yang suka berbohong, malas, tidak bertanggung jawab, tidak peduli kepada orang tua, dan semau gue? Bapak-Ibu yang dirohmati Alloh, Anda boleh saja kawatir anak Anda belum bisa baca-tulis dan berhitung. Tapi sebaiknya Anda lebih dan lebih kawatir jika anak Anda memiliki akhlaq dan karakter yang buruk.

Bagaimana cara mendidik anak agar memiliki akhlaq dan karakter yang baik?

Cara yang paling utama adalah dengan memberi contoh atau teladan yang baik. Siapa yang harus menjadi contoh yang baik? Siapa lagi kalau bukan Bapak dan Ibu. Apa pun yang bapak-ibu praktekkan di depan sang anak, dengan cerdas dia akan menirunya. Ada dikatakan, “seorang anak mungkin gagal dalam memahami apa yang orang tua katakan, tapi seorang anak tidak pernah gagal dalam meniru prilaku”. Kemudian usahakan sedemikian rupa agar anak Anda senantiasa mendapatkan input yang baik. Pilihkan tontonan yang baik, hiburan yang baik, aktifitas yang baik, dan teman-teman yang baik. Selain itu Bapak-Ibu sebaiknya membacakan dongeng untuk anak sebelum tidur. Ceritakan kepada anak Anda kisah-kisah teladan para Nabi, sahabat nabi, para ulama, para pahlawan dan para ilmuwan. Dongeng ini manfaatnya luar biasa. Ia akan diingat oleh anak sampai dia dewasa, bahkan sampai tua. Secara umum, anak-anak sangat senang jika dibacakan dongeng.

 

Yang kedua adalah kreatifitas.

Mengapa kretaifitas? Semakin tinggi jabatan seseorang, makin tinggi pula ia membutuhkan kreatifitas yang digunakan untuk memecahkan masalah keuangan perusahaan, meningkatkan penjualan, meningkatkan pendapatan, menciptakan diversifikasi produk, memenagkan persaingan dan lain-lain. Sementara jika kretaifitas seseorang itu rendah, yang tinggi hanya kemampuan membaca, menulis dan berhitung saja, kemungkinan besar jabatan tertinggi hanya sebagai sekretaris atau asisten operasional saja.

 

Bagaimana cara menumbuhkan kreatifitas anak?

Berikut beberapa cara menumbuhkan kreatifitas anak yang dikutip dari buku “Cara Mengembangkan Kreatifitas Anak” oleh Reynold Bean, Binarupa Aksara, 1995 :

1. Beri kesempatan anak untuk menyampaikan perasaan, keinginan dan gagasannya tanpa mencela atau membuatnya malu

2. Hormatilah cara anak mengekspresikan kreatifitasnya dengan memberikan pengakuan dan pujian terhadap proses kreatif yang dilakukannya

3. Ciptakanlah lingkungan rumah yang kaya akan peluang mengekpresikan diri dengan menyediakan sumberdaya seperti mainan, buku, benda bekas, ruang dan waktu untuk kreatifitas

4. Tanyakan dahulu pendapat atau penilaian anak terhadap hasil karyanya sebelum orang di sekitarnya memberikan penilaian

5. Akui dan hargai hasil karya anak dengan membingkainya, menempel hasil karyanya dan memujinya

6. Hindarkan tindakan membanding-bandingkan anak dengan temannya, atau dengan kakak atau adiknya

7. Biarkan anak bermain dengan gembira, karena bermain adalah wujud kreatifitas bagi anak.  Pada waktu bermain, anak akan merasa gembira dan  pada saat itulah kreatifitas akan mengalir deras.

 

Yang ketiga adalah entrepreneurship.

Dengan kemampuan entrepreneurship atau wirausaha, seseorang mampu menciptakan lapangan pekerjaan minimal untuk dirinya sendiri sehingga ia tidak bergantung kepada orang lain. Lihatlah saudara kita dari China itu. Mereka dididik sedemikian rupa untuk menjadi pengusaha-pengusaha hebat sejak usia dini. Tidak mengherankan jika mereka saat ini memimpin banyak perusahaan besar yang ada di sekitar kita. Di Negara Indonesia ini ada lebih dari 15 juta pengangguran. Menurut Anda, kira-kira mereka bisa baca-tulis dan berhitung apa tidak?

 

Bagaimana cara melatihkan jiwa entrepreneurship pada anak?

Menurut Endang Artiati Suhesti, S.Pd. pendidikan entrepreneur bisa dimulai sejak anak berusia 2 tahun. Usia 2 – 5 tahun adalah usia-usia dimana rasa keingintahuan mereka sangat tinggi. Pada masa ini, orangtua bisa mengenalkan dunia kewirausahaan kepada anak secara bertahap.

Pertama, gunakan permainan jual beli ketika anak berusia 2 tahun. Anak bisa berperan sebagai penjualnya lalu orangtua bisa berperan sebagai pembeli, atau bisa sebaliknya., pertegas kalimat-kalimat yang digunakan ketika proses permainan jual beli itu berlangsung, misalnya, “Saya mau beli gula, harganya berapa ya?, “Ini uangnya”, “Kembaliannya belum lho”, Saya bisa tidak ya menawar harganya ?”. Awalnya anak tentu tidak mengerti, tetapi jika hal ini dilakukan berulang-ulang, anak menjadi paham aturan mainnya.

Kedua, jika anak sudah beranjak lebih besar, sekitar umur 3 – 4 tahun, perkenalkan anak dengan proses jual beli yang nyata. Anak bisa diajak ke pasar tradisional atau ke supermarket untuk ikut terlibat dalam transaksi jual beli. Beri anak penjelasan tentang pengetahuan tentang konsep perdagangan secara sederhana dan dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh anak.

Ketiga, saat anak bertambah usianya, misalnya ketika memasuki usia sekolah dasar, libatkan anak dengan usaha kecil-kecilan. Misalnya anak diikutsertakan untuk membantu berjualan layang-layang saat musim layang-layang. Ketika sedang musim buah, ajak anak untuk berdagang buah-buahan, atau usaha dagang lainnya yang bermacam-macam.

Keempat, bertambahnya usia anak, coba latih pikiran kreatif dan ketertarikan mereka tentang usaha-usaha yang sekiranya bisa dikembangkan. Dorong anak anda memulai usahanya dari yang kecil terlebih dahulu, dan jadikan dia pelaku utamanya, sementara orangtua sebagai pembimbing dan pemberi dukungan.

Kelima, jika anak sudah berani mencoba untuk memulai usahanya, terus dorong semangat entrepreneur anak dan rangsang ide-ide kreatifnya. Bisa jadi usaha pertamanya gagal, tetapi karena dorongan dari orangtua yang begitu tinggi, anak akan bangun lagi dan mencoba usaha di bidang lainnya. Justru pengalaman kegagalan ini diperlukan agar anak mempunyai mental yang kuat. Selalu beri dia motivasi agar mau bangkit kembali saat gagal, agar kelak tak gamang dalam berwirausaha.

Bapak-Ibu yang disayang oleh Alloh ta’ala. Pada dasarnya anak dapat diajari baca-tulis dan berhitung sejak usia dini. Namun sebenarnya lebih penting untuk mengajarkan kepada mereka akhlaq yang baik, kreatifitas, dan entrepreneurship karena ketiga hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi anak-anak di masa depan mereka. Jika anak minta diajari baca-tulis dan berhitung, silahkan ajari mereka dengan cara yang menyenangkan. Tidak perlu memaksa. Dan jika anak Anda belum bisa membaca, menulis, dan berhitung, Bapak-Ibu tidak perlu terlalu kawatir. Terakhir, marilah kita senantiasa mendoakan anak-anak kita. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholih-sholihah. Amin. [tj]

Sumber. Ayah Edy. Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus mana pun. 2012. Jakarta: Penebit Noura Books.

http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/03/08/saatnya-menumbuhkan-jiwa-entrepreneur-kids-440955.html

http://www.gayabunda.com/keluarga/seputar-anak/menumbuhkan-kreatifitas-anak.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s