SINGA DALAM SENYAP

Standar
10. Prof. Ali Aziz menyampaikan Taushiyah

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

 

Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan hal ini. Maha Suci Engkau (Wahai Tuhan kami). Ini adalah dusta yang besar.” (QS. An Nur [24]:16).

Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang tuduhan busuk orang-orang munafik bahwa Aisyah, istri Nabi berselingkuh, berduaan dengan Sofwan bin Mu’aththil As-Sulami dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq. Tuduhan itu menyebar begitu cepat sehingga menggegerkan umat Islam. Nabi SAW juga gelisah dan meminta pendapat Umar bin Khattab r.a. Umar bertanya, “Wahai Nabi, siapakah yang menikahkan tuan dengan Aisyah?” “Allah,” jawab Nabi. Umar berkata, “Apakah Allah menipu tuan?” Nabi menjawab: “Maha suci Engkau, wahai Allah. Ini benar-benar sebuah kebohongan (inna hadza buhtanun adhim).” Lalu turunlah ayat di atas dengan redaksi dan isi yang mirip dengan dialog Nabi dan Umar bahwa tuduhan itu sebuah kebohongan besar (buhtanun ‘adhim). Lanjutkan membaca

Laporan Qurban 1437 H / 2016 M

Standar
PEMASUKAN QURBAN 2016
NO NAMA PEQURBAN ALAMAT JUMLAH
1 (Alm.) IBU MUJI Dukuh Setro 1 Kambing
2 dr. DIDI ARYONO, B. SpKj. RS. Darmo 1 Kambing
3 Bapak WIBOWO Pakuwon City 1 Kambing
4 HEROE T. BRAHMANTO Gubeng Kertajaya 5c 1 Kambing
5 FAIDH AKIFAH PRICILIA A Surabaya 1 Kambing
6 Alm. DARMAWAN Surabaya 1 Kambing
7 Alm. SARMINI Surabaya 1 Kambing
8 Alm. MURAD SUWANDONO Surabaya 1 Kambing
9 HERI SETIAWAN Surabaya 1 Kambing
10 TITO WARDANA Surabaya 1 Kambing
11 BAPAK BUDI Dharmawangsa 1 Kambing
12 BAPAK H. ALI Gubeng kertajaya 13 1 Kambing
13 BAPAK SAHAD Bratajaya 1 Kambing
TOTAL

Mentahnik Bayi dan Mendoakannya

Standar

tahnik-bayiMentahnik adalah mengunyah sesuatu lalu meletakkan dan mengusap-usapkan kunyahan itu di mulut bayi. Hal ini dilakukan agar bayi mau makan dan membuatnya kuat. [1]

Namun mentahnik yang dimaksudkan disini adalah mentahnik bayi yang baru lahir yang disyariatkan oleh Allah melalui petunjuk Rasul-Nya dengan cara menyuapinya sedikit buah kurma yang sudah dikunyah dan dibasahi. Selain sunnah yang dianjurkan, mentahnik juga akan membuat bayi merasa tenang dan aman atas kelangsungan makanannya. Ia akan merasa mendapatkan perhatian, terlebih lagi buah kurma yang diberikan kepadanya dikunyah terlebih dahulu, sehingga meningkatkan kadar gula yang disukai olehnya. Dalam tuntunan ini terkandung pengertian melatih sang bayi agar nanti terbiasa mengonsumsi makanan barunya yang ia sedot dengan mulutnya agar ia terbiasa.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi saw sering didatangi para orangtua yang membawa bayinya untuk dimintakan berkah dan ditahnik. [2] Lanjutkan membaca

Sembilan Adab Menjadi Orang Kaya Menurut Imam Al-Ghazali

Standar

ilustrasi-orang-kaya-1-140511-andriKekayaan, betapapun kerasnya cara kita mendapatkannya, adalah anugerah Allah. Karena anugerah, ia harus diperlakukan sesuai dengan aturan-aturan Sang Pemberi Anugerah. Orang tak bisa seenaknya berbuat dengan hartanya meskipun ia mengklaim itu hasil jerih payahnya sendiri. Sebab, setiap yang dimiliki manusia terkandung tanggung jawab yang harus dipikul. Sikap etis dalam memiliki kekayaan termasuk dari implementasi tanggung jawab tersebut.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali menjelaskan etika menjadi orang kaya dalam salah satu risalahnya berjudul Al-Adabu fid Dîn, persisnya dalam fasal Âdâbul Ghanî (dalam Majmû‘ Rasâil al-Imâm al-Ghazâlî, Kairo: al-Maktabah at-Taufîqiyyah). Imam Al-Ghazali mengulas beberapa poin penting yang harus dilakukan oleh orang berpunya. Lanjutkan membaca

SENYUM: SEDEKAH TANPA RUPIAH

Standar

 

ust-samsu

Oleh: SYAMSU RIYANTO, S.Kom.I (Dewan Musyrif Pusat Ma’had al Jamiah UIN Sunan Ampel Surabaya)

عن أبي ذر، قال: قال رَسُولُ اللَّهِ : «تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

Abu Dzar ra. berkata,  Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.“ (HR at Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dan lainnya, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh at Tirmidzi).

Menurut hadits di atas, dalam ajaran Islam senyum bernilai ibadah. Seulas senyuman yang disunggingkan kepada seseorang senilai dengan sedekah. Makna sedekah tak hanya uang dan harta, senyum merupakan sedekah yang paling gampang namun juga bisa menjadi sangat sulit diberikan seseorang. Tak perlu modal besar untuk senyum, sedikit ‎saja menarik wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang indah, manis dan menawan. Lanjutkan membaca

Pantaskah Menyebarluaskan Foto Orang Sakit di Media Sosial?

Standar

doa-untuk-orang-sakit-bacaandoaTak diragukan, Islam sangat menganjurkan tiap orang untuk berempati kepada sesama, termasuk menjenguk saat datang musibah sakit ataupun kematian. Anjuran ini tersebar dalam banyak teks hadits. Orang yang dijenguk pun bisa siapa saja, mulai dari keluarga, tetangga, ulama, hingga orang-orang yang membenci kita.

Menjenguk orang sakit adalah bagian dari ibadah yang utama. Saking pentingnya ibadah ini, dalam sebuah hadits riwayat Imam ath-Thabrani dijelaskan bahwa di antara kewajiban terhadap tetangga adalah menjenguknya kala sakit dan mengiringi jenazahnya saat meninggal dunia. Lanjutkan membaca