Hukum Mengadakan Tahlilan

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :

P1130784

Nur Kholis Majid, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur

Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com

———————————

Pertanyaan:

Assalamulaikum Wr.Wb. Ustadz Nur Kholis Majid yang terhormat, belakangan ini muncul beberapa kelompok umat Islam yang tidak setuju dengan tahlilan, shalawatan, dan beberapa aktivitas keagamaan lainnya yang substansinya menghadiahkan pahala kepada mayit. Lebih dari itu, mereka mengakfirkan dan memusyrikkan umat Islam lainnya yang setuju dengan tahlilan dan shalawatan. Padahal, kami sering kali melakukannya, khususnya pada hari ke 7, 40, 100, 1000 dari kematian mayit. Perbedaan ini sering kali menjadi sumber konflik sosial dan mengarah kepada tindakan anarkis. Oleh karenanya, Mohon berkenan Ustadz untuk menjelaskan perbedaan tersebut dengan memaparkan pandangan Ulama’ beserta argumentasinya secara obyektif. Atas penjelasannya kami sampaikan terima kasih !

Abdurrahim

Sukolilo-Surabaya

Jawaban:

Pak Abdurrahim yang dirahmati Allah SWT, ada beberapa pendapat ulama’ tentang hukum mengadakan tahlilan dan shalawatan sebagaimana berikut ini:

  1. Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa menghadiahkan pahala bacaan tahlilan dan shalawatan merupakan hal mustahil. Artinya, pahala tersebut tidak akan sampai ke mayit yang dituju. Pendapat ini diwakili oleh Imam Syafi’i. adapun dalil yang dijadikannya sebagai acuan ialah:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Artinya: “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (Q.S. al-Najm: 39)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ[1]

Artinya: “Dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasul SAW bersabda: “jika manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kepada orang tuanya”. (HR. al-Bukhari)

Dua nas shar’i diatas termasuk hujjah syar’iyyah yang mengisyaratkan bahwa pahala yang dihadiahkan kepada mayit tidak akan sampai kepadanya. Menurut mereka, manusia hanya mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatannya sendiri, dan tidak bisa mendapatkan pahala yang dihadiahkan oleh orang lain.

  1. Sebagian Ulama’ yang lain seperti Ibn Taymiyyah berpendapat bahwa pahala yang dihadiahkan tersebut sampa ke mayit yang dituju.

Menurut Penulis, mereka sesungguhnya terjebak dalam kesalahan memahami teks syar’i diatas yang tidak sesuai dengan madlulnya. Dua teks shar’i diatas tidak mengisyaratkan boleh dan tidaknya menghadiahkan pahala kepada mayit, akan tetapi ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia kelak di akhirat mendapatkan dari Allah SWT sesuai dengan amalnya di dunia. Yang kedua, jika mereka memahami dalil yang pertama yang artinya “seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, apakah tidak diperkenankan untuk mendapatkan hadiah atau pemberian orang lain? Untuk mendukung dan menguatkan pandangan Penulis, berikut akan dikutip salah satu syarh (keterangan) yang adalam kitab tafsir al-Alusi:

وَأُجِيْبَ بِأَنَّ الْغَيْرَ لَمَّا نَوَى ذَلِكَ الْفِعْلَ لَهُ صَارَ بِمَنْزِلَةِ الْوَكِيْلِ عَنْهُ الْقَائِمِ مَقَامَهُ شَرْعاً فَكَأَنَّهُ بِسَعْيِهِ[2]

Artinya: “Dijawab, bahwa orang yang berniat melakukan suatu perbuatan atas nama orang lain, maka dia menjadi wakil dan menempati posisi orang lain tersebut. Dan (amal) yang dilakukan oleh wakilnya seolah-olah dilakukan sendiri oleh orang yang mewakilkannya”.

Dengan demikian, mengadakan tahlilan dan shalawatan dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, merupakan perbuatan yang masyru’ah (disyariatkan) dalam Islam dan tidak menyalahi al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Adapun melakukan dan mengkhususkannya pada hari tertentu seperti hari ke 7, 40, 100, 1000 dari kematian mayit, juga tidak menyalahi syari’ah. Hal ini lazim dilakukan oleh Rasul SAW dengan mengkhususkan hari Sabtu untuk berkunjung ke masjid Quba’ sebagaimana riwayat Hadis berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَأْتِى مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ رضى الله عنهما يَفْعَلُهُ[3]

Artinya: “Dari Ibn Umar r.a. beliau berkata: Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba’ setiap hari Sabtu dalam keadaan berjalan kaki dan berkendaraan. Dan Abdullah bin Umar juga melakukan hal demikian” (HR. al-Bukhari)

عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوْسٌ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَيَّامَ (رواه الإمام أحمد في الزهد)

Artinya: “Dari Sufyan beliau berkata: Thawus berpendapat: sesungguhnya orang-orang yang telah meninggal dunia akan diuji di alam kubur selama tujuh hari. Maka dari itu, mereka menganjurkan agar selama tujuh hari tersebut, memberikan sedekah makanan kepada orang lain”.

Menanggapi Hadis diatas, Ibn Hajar al-Asqalani memberikan syarh (penjelasan) dalam kitabnya Fathul Bari sebagaimana berikut:

وَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ عَلَى اخْتِلاَفِ طُرُقِهِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيْصِ بَعْضِ الْأَيَّامِ بِبَعْضِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ

Artinya: “Hadis ini, dengan jalurnya yang berbeda-beda mengisyaratkan bahwa boleh hukumnya mengkhususkan hari-hari tertentu dengan melaksanakan perbuatan baik dan melakukannya secara terus-menerus di hari tersebut”.

Pak Abdurrahim yang dimulyakan oleh Allah, silahkan anda ikuti sesuai dengan keyakinan anda, tetapi hendaknya bersikap toleran dan bijaksana kepada orang lain yang mungkin berbeda dengan anda. Demikian jawaban ini, semoga bermanfaat, amin !

 


[1] Sahih Bukhari, Juz XI, hal. 68. Hadis No. 4310

[2] al-Alusi, Tafsir al-Alusi, 573

[3] Sahih Bukhari, Juz IV, hal. 497. Hadis No. 1193

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s