Jujur, Mujur di Dunia, Mujur di Akhirat

Standar

Cover April 2013Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Kita semua tahu bahwa jujur itu sifat yang sangat mulia. Jujur adalah sifat mulia yang disematkan kepada para nabi dan rosul. Para manusia termulia di jagat raya ini. Sifat jujur sangat terkait dengan keimanan seseorang. Bahkan Rosululloh pernah menyatakan bahwa seseorang yang di dalam hatinya tertanam iman yang kuat, tidak mungkin berbuat bohong atau dusta. Suatu ketika sahabat bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, apakah orang beriman ada yang penakut? Beliau menjawab,’Ya.’ Maka ada yang bertanya kepada beliau, ‘Apakah orang beriman ada yang bakhil (pelit, kikir).’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Ada lagi yang bertanya, ‘Apakah ada orang beriman yang pendusta?’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’ (HR. Imam Malik)

Lebih jauh lagi, Alloh ta’ala mengecap pembohong sebagai orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl :105)

Begitulah, sifat dan perilaku jujur sangat erat kaitannya dengan iman seseorang kepada Alloh ta’ala. Seseorang yang beriman tentu saja merasa bahwa dia senantiasa diawasi oleh Alloh. Dia takut berbohong karena sudah tentu Alloh yang Maha Tahu mengetahui kebohongannya.

Saudaraku yang berbahagia dengan rohmat Alloh ta’ala. Nabi kita tercinta, Muhammad ibnu ‘Abdillah adalah seseorang yang terkenal dengan kejujurannya. Sejak kecil beliau senantiasa berkata dan berbuat jujur. Saking jujurnya, beliau mendapatkan gelar al-amin (yang terpercaya) dari penduduk Makah pada waktu itu. Beliau adalah satu-satunya manusia yang mendapat gelar kehormatan seperti itu. Salah satu contoh peristiwa yang menunjukkan bahwa orang-orang Makah mengakui kejujuran Nabi Muhammad adalah ketika beliau mengumpulkan orang-orang Makah di bukit Shofa kemudian beliau berkata, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada sepasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” Orang-orang Makah serempak menjawab, “kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran”. Keterangan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

Kita semua tahu bahwa Nabi Muhammad, dengan kejujurannya, adalah manusia terbaik dan paling mulia sepanjang sejarah. Bahkan, seorang penulis Yahudi yang bernama Michael H. Hart dalam bukunya yang terkenal, The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah peradaban manusia. Benar. Nabi kita, Nabi umat Islam adalah manusia yang terkenal dengan sifat jujurnya. Bagaimana dengan pengikutnya? Bagaimana dengan kita?

Pada kesempatan kali ini kami mengajak Anda sekalian untuk menelaah manfaat sifat jujur baik di dunia maupun di akhirat. Semoga dengan memahami manfaat-manfaat ini kita semakin termotivasi untuk senantiasa berlaku jujur. Disamping itu kami juga mengajak Anda sekalian untuk menelusuri kerugian sifat bohong baik di dunia maupun di akhirat. Semoga dengan memahami kerugian-kerugian ini kita semakin meneguhkan diri untuk menghindari dan menjauhi perbuatan bohong.

 

Manfaat sifat jujur di dunia

Ada beberapa manfaat dari sifat jujur bagi seseorang selama hidupnya di dunia. Diantaranya adalah hati yang tenteram, dipercaya orang lain, usaha semakin barokah, dan dicintai oleh Alloh ta’ala dan Rosululloh.

Orang yang senantiasa berkata dan berlaku jujur menjalani hidup dengan tenang. Perkataannya mudah dipahami, jelas, dan tidak berbelit-belit. Pendapatnya kuat. Pendiriannya teguh. Ia tidak merasa kawatir karena memang ia senantiasa berkata apa yang sebenarnya sesuai dengan kenyataan. Jadilah dia hidup dalam ketenangan. Orang yang seperti ini, tentu hidup di dunia dengan penuh kebahagiaan. Hidup dengan hati yang tenteram.

Selanjutnya, orang yang jujur senantiasa mengungkapkan kebenaran. Dia teguh menyampaikan apa yang sebenarnya, walaupun kadangkala terasa kurang enak. Dalam kesehariannya ia tidak pernah berbohong. Pantas saja orang-orang di sekitarnya menaruh kepercayaan kepadanya. Hal ini berdampak positif bagi hidupnya sehari-hari. Jika dia sedang kesusahan dan memerlukan hutang, orang-orang akan dengan ringan tangan membantunya dengan memberi hutangan. Mereka sudah percaya kepadanya. Jika dia jualan, orang-orang dengan senang hati membeli barang dagangannya. Orang-orang itu tidak kawatir bahwa dia akan menipu mereka. Jika dia membutuhkan rekan bisnis, orang-orang akan bahagia bekerjasama dengannya. Mereka sudah yakin bahwa orang itu tidak mungkin berkhianat. Tentu, sangat membahagiakan sekali, hidup sebagai orang yang dipercaya.

Selain itu, sifat jujur juga bermanfaat bagi para wirausahawan, pebisnis, maupun karyawan. Usaha yang dilakukan akan bertambah-tambah berkahnya. Usaha yang barokah senantiasa mengantarkan pemiliknya untuk lebih dekat kepada Alloh ta’ala. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya), ”Dua orang yang berjual beli mempunyai pilihan (untuk melanjutkan transaksi ataupun membatalkannya) selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan barangnya maka akan diberkahi jual beli mereka, dan jika mereka merahasiakan dan berdusta maka dihilangkan keberkahan jual beli mereka.” (HR Bukhari)

Tidak hanya itu, perilaku jujur menyebabkan pelakunya dicintai oleh Alloh ta’ala dan Rosululloh. Jika kita sudah mendapatkan cinta dari Alloh ta’ala dan Rosululloh, insyaalloh, kita mampu menjalani hidup di dunia ini dengan penuh kebahagiaan. Insyaalloh, Alloh ta’ala akan memudahkan segala urusan kita.

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau ingin dicintai oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya, maka tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah jika engkau bicara, dan berbuat baiklah terhadap orang di sekililingmu” (HR. ath-Thobroniy)

 

Kerugian sifat bohong di dunia

Walaupun sekilas kelihatannya bermanfaat, sesungguhnya perilaku bohong banyak merugikan pelakunya selama hidup di dunia. Diantara kerugian yang diakibatkan dari perilaku bohong adalah hidup tidak tenang (senantiasa waswas), tidak dipercaya orang lain, dibenci orang lain, dan

Orang yang berbohong hidup dalam ketidaktenangan. Dia senantiasa kawatir kebohongannya diketahui oleh orang lain. Hatinya dipenuhi dengan waswas. Omongannya sering mencla-mencle. Tentu saja, karena dia mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Ketika berbicara dan berbohong, sebenarnya hati nuraninya menolak, ingin berontak. Orang seperti ini hidupnya tidak tenang. Hidupnya dipenuhi dengan keraguan. Benarlah sabda Nabi kita tercinta (yang maksudnya);

“Maka sesungguhnya jujur adalah ketenangan dan bohong adalah keraguan.” (HR. Imam Turmudzi)

Jika sudah sering berbohong, orang lain akan mengecap dia sebagai pembohong. Orang lain akan sulit percaya kepada apa yang dia katakan. Ketika dia sedang kesusahan, orang lain enggan membantunya. Ketika dia perlu hutang, orang lain enggan memberinya hutang. Takut tidak dibayar. Ketika sang pembohong berjualan barang, orang lain enggan membelinya. Takut dibohongi. Jangan-jangan barangnya sudah diutak-atik, spart-partnya yang asli deganti dengan yang palsu. Bisa Anda bayangkan, sungguh tidak enak sekali, hidup sebagai orang yang tidak dipercaya.

Tidak hanya itu, biasanya, masyarakat membeci pembohong. Lihat saja, ketika ada seorang calon pemimpin ketahuan berbohong, pasti masyarakat ramai-ramai mencacinya. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang dikenal sebagai pembohong, biasanya dibenci oleh masyarakat. Tentu saja, omongannya tidak bisa dipegang. Ketika dipercaya justru dia berkhianat. Ketika berjanji justru dia mengingkari. Manusia mana yang mau bersahabat dengan orang seperti ini? Saya yakin, seorang pembohong pun, akan marah jika dibohongi.

 

Manfaat sifat jujur di akhirat

Selain banyak bermanfaat di dunia, sifat jujur juga bermanfaat besar bagi pelakunya di akhirat kelak. Malah, sebenarnya manfaat di akhirat ini nilainya jauh lebih besar daripada manfaat di dunia. Kenapa? Karena kehidupan di akhirat adalah kekal, sementara kehidupan di dunia hanyalah sementara.

Pada hari kiamat kelak, dikatakan kepada manusia:

هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ

Ini adalah suatu hari di mana kejujuran orang-orang yang jujur bermanfaat bagi mereka. …”. (QS. Al-Maidah :119)

Sifat jujur menjadikan pelakunya senantiasa dekat dengan kebaikan, cenderung melakukan amal-amal baik. Otomatis amal kebaikannya senantiasa bertambah dan bertambah. Jika kejujuran ini senantiasa dia jaga hingga akhir hayatnya, kemungkinan besar dia meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah. Tentu, dengan izin dan ridlo dari Alloh ta’ala. Apa yang terjadi kepada orang yang semasa hidupnya di dunia banyak mengerjakan amal-amal kebaikan? Di akhirat nanti, dia dijanjikan oleh Alloh ta’ala, untuk dimasukkan ke surga-Nya yang penuh dengan nikmat.

Dari ibnu Mas’ud rodliyallohu anhu, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Berlakulah jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang senantiasa bersikap jujur dan senantiasa berusaha berlaku jujur hingga ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (HR. Bukhori-Muslim)

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pun menjamin bahwa orang yang senantiasa jujur akan dimasukkan oleh Alloh ta’ala ke dalam surga-Nya kelak…

“Berikanlah kepadaku enam perkara. Niscaya aku akan jamin engkau masuk surga: jujurlah jika engkau bicara, tepatilah jika engkau berjanji, tunaikanlah jika engkau diberi amanat, jagalah kemaluanmu, tundukkan pandanganmu, dan jagalah tanganmu” (HR. Imam Ahmad)

 

Kerugian sifat bohong di akhirat

Di sisi lain, sifat dan perilaku bohong menyebabkan pelakunya menanggung kerugian yang sangat besar di akhirat kelak. Orang yang suka berbohong otomatis akan terperangkap ke dalam lingkaran kebohongan. Dia akan melakukan kebohongan dan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan yang dia lakukan pertama kali. Tidak hanya demikian, kebohongan yang dilakukannya akan menyebabkan dia cenderung berbuat kejelekan dan kejahatan. Apa yang terjadi kepada orang yang selama hiduponya di dunia banyak berbuat kejelekan dan kejahatan? Ia dimurkai oleh Alloh ta’ala. Di akhirat nanti dia akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. Terjerembab ke dalam neraka yang penuh dengan siksaan.

Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan: “Janganlah berlaku dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan senantiasa berusaha berdusta hingga ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih).

Demikianlah saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Sifat dan perilaku jujur itu sangat bermanfaat bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, sifat dan perilaku bohong itu sangat merugikan bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, mari kita jujur, berbicara jujur, berlaku jujur, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kejujuran dalam diri kita. Sungguh, jujur sama dengan mujur. Kejujuran membawa pelakunya kepada kemujuran. Mujur di dunia. Mujur di akhirat. [tj/LP2A PBSB]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s