Perlukah melakukan tes IQ kepada anak?

Standar

brainPertanyaan:

Kami memiliki anak yang sebentar lagi masuk kelas 1 SD. Setelah kami melakukan survey ke beberapa sekolah, kami menemukan sekolah yang kata orang disebut sebagai sekolah favorit. Cuma untuk masuk sekolah tersebut anak kami harus melewati tes IQ terlebih dahulu. Apakah tes IQ perlu dilakukan untuk anak usia TK?

Jawaban:

Ayah-Bunda yang baik hati, sebelum saya menjawab perlu tidaknya tes IQ pada anak, kita tengok dulu latar belakang lahirnya tes IQ. Pada saat terjadi perang dunia I, Alfred Binet, seorang psikolog Perancis, diminta pemerintah membuat tes untuk rekruitmen calon tentara. Hal ini dilakukan untuk melegitimasi siapa yang diterima dan siapa yang ditolak sebagai calon prajurit.

Pada zaman itu belum ada riset yang mutakhir tentang otak dan cara kerjanya. Basis mengukur kecerdasan bukan didasarkan pada cara kerja otak, tetapi pada asumsi “Bell Curve” atau kurva lonceng. Artinya, ada asumsi bahwa di dalam setiap kelompok ada orang-orang dengan kemampuan di atas rata-rata yang jumlahnya sedikit dan ada orang-orang dengan kemampuan di bawah rata-rata yang jumlahnya lebih banyak. Jika dibuat kurva akan mirip lonceng yang bagian atasnya kecil sementara bagian bawahnya besar. Tes IQ model ini beranggapan bahwa orang yang dapat mengerjakan soal-soal tertentu dengan persentasi “benar” yang lebih banyak adalah lebih pandai daripada mereka yang menjawab soal dengan “benar” lebih sedikit. Hasilnya, dalam setiap kelompok ada yang dinilai pandai (biasanya jumlahnya lebih sedikit) yang akan masuk sebagai calon perajurit, dan ada yang dinilai bodoh (biasanya jumlahnya lebih banyak).

Tes IQ ini kemudian dipakai juga oleh Industri, dimulai pada Revolusi Industri, untuk menyeleksi calon karyawan. Semakin lama tes IQ ini menyebar luas ke berbagai bidang lembaga dan akhirnya sampai juga di dalam sistem sekolah.

Saat ini masih banyak sekolah-sekolah yang menerapkan penilaian berbasis “Bell Curve” seperti pada tes IQ tersebut. Akibatnya, sekolah menjadi lembaga penyeleksi siswa yang pandai dan yang bodoh. Bukan lembaga yang memproses semua peserta didiknya menjadi juara dan sukses. Padahal tak ada satupun orangtua di dunia ini yang menyekolahkan anaknya agar menjadi orang yang gagal. Semua ingin anaknya sukses. Namun karena asumsi yang digunakan adalah “Bell Curve”, sekolah-sekolah pada umumnya hanya mencetak 3 juara, ranking 1, 2, dan 3 dari sekitar 25-40 siswa di dalam setiap kelas. Jadi sekolah lebih banyak mencetak siswa gagal.

Pada tahun 1980-an, Howard Gardner, seorang psikolog berkebangsaan Amerika, berdasarkan penelitiannya selama lebih dari 20 tahun, mengajukan sebuah teori yang dinamakan Multiple Intelligences atau teori Kecerdasan Majemuk. Berdasarkan konsep Multiple Intelligences (MI) ini, semua anak diyakini sebagai anak yang cerdas. Mereka cerdas di bidangnya masing-masing. Ada yang cerdas Ruang-Gambar, Matematik-Logis, Bahasa, Music, Interpersonal, Intrapersonal, Body-Kinestetik, atau Natural-alam. Setiap anak adalah cerdas dan berpotensi menjadi juara dan sukses di bidangnya masing-masing.

Pertanyaan sederhana, siapakah yang lebih cerdas? Albert Einstein, Ronaldo, Pablo Picasso, atau Presiden SBY..??

Benar. Semuanya cerdas sesuai dengan bakat dan potensinya masing-masing. Einstein punya kecerdasan lebih dalam Matich-Logic, Ronaldo lebih hebat dalam Body-Kinestetic, Pablo Picasso lebih jago dalam Ruang-Gambar, dan presiden SBY lebih menonjol dalam kecerdasan Interpersonal.

Ayah-Bunda masih ingat proses kejadian manusia, termasuk anak kita? Ada sekian juta sel sperma yang berusaha membuahi sel telur yang berjumlah satu saja. Dari sekian ratus juta sel sperma itu, akhirnya hanya ada satu sel sperma yang berhasil membuahi sel telur. Pembuahan tersebut akhirnya menjadi anak yang Bunda lahirkan. Iya, dialah pemenangnya!! Anak kita, dan setiap anak yang lahir di dunia ini, adalah pemenang dari persaingan antar sel sperma yang berjumlah ratusan juta itu. Lalu mengapa setelah mengikuti tes IQ anak-anak kita ada yang dikatakan cerdas dan ada yang dianggap bodoh? Ada yang dinilai sebagai pemenang dan ada yang menjadi pecundang?

Ayah-Bunda yang berbahagia, coba bayangkan. Kita saja para orang tua yang hidup bersama anak-anak kita dan mengamati mereka selama bertahun-tahun seringkali belum menemukan apa sebenaranya bakat dan potensi yang dimiliki oleh sang anak yang sesungguhnya. Lalu bagaimana mungkin sebuah tes yang berdurasi sekitar 2-3 jam bisa mengklaim bahwa anak kita itu cerdas atau bodoh?

Setelah mengetahui paparan yang saya sampaikan tersebut, silahkan Ayah Bunda memutuskan apakah akan melakukan tes IQ pada anak apa tidak? Pilihlah dengan bijaksana ya Ayah-Bunda…(Disarikan dari buku Ayah Edi Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orangtua … Penerbit: NouroBooks. Hal 124-128)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s